Sejarah Perkembangan Geografi (Dr. Drs. P. Endrapradana M.Sc, dengan perubahan)

Manfaat yang dapat diperoleh dengan mempelajari sejarah perkembangan geografi dapat kiranya kita simpulkan dalam pernyataan : “We may compare the mond of man to a mirror which has the ability not only tom reflect but also to retain, record and interpret more or lessimperfectly the images that it reflects”. Jauh sebelum adanya sejarah yang tertulis, manusia telah menjelajahi permukaan bumi mulai dari daerah yang terdekat dari tempat kediamannya. Dari pengalaman itu sadarlah mereka akan adanya perbedaan antara daerah yang satu dengan yang lain. Perbedaan antara tempat-tempat dipermukaan bumi ini oleh John K. Wrigt disebut Geodiversity.

Adanya kenyataan tersebut orang merasakan perlunya untuk membentuk suatu gambaran pikiran tentang hal-hal yang terdapat diluar cakrawalanya, dan selanjutnya menghubung-hubungkan gambaran-gambaran tersebutsatu dengan yang lain. Gambaran-gambaran tersebut beserta dengan penjelasannya sering kali tidak memuaskan dari suatu generasi ke generasi yang lain, karena itu tidak henti-hentinya manusia selalu mencari pikiran-pikiran baru beserta dengan penjelasan-penjelasan yang lebih sempurna, yang sesuai dengan keyakinan mereka yang mutakhir.
Tanggapan-tanggapan tentang permukaan bumi ini selalu berubah-ubah yang menyebabkan tidak dapat dihindarinya pembentukan buah-buah pikiran yang baru, dan inilah yang merupakan saripati dari sejarah tentang perkembangan gagasan-gagasan geografi ini. Preston E. James membedakan kurun-kurun waktu dalam sejarah perkembangan geografi yaitu geografi Klasik, geografi baru akhir Abad 19, dan geografi kontemporer (masa kini).

Geografi Klasik
Periode ini mulai dari awal perkembangan geografi yang dirintis oleh para perintis geografi sejak zaman purba hingga Tahun 1895. Periode ini ditandai oleh kurangnya perhatian akan perlunya lapangan studi yang khusus bagi geografi. Para ahli geografi sekaligus merupakan orang yang ahli pada dalam bidang lain, misalnya Herodotus merupakan bapak ilmu sejarah tetapi juga ahli geografi, Pytagoras adalah ahli matematika tetapi juga ahli tentang geografi, dsb. Karena itu keahliannya masih berisfat Universal Scholarship. Periode ini terdiri atas: Geografi Purba, Geografi Abad-abad Pertengahan, Renaissance, dan Penemuan Benua-benua baru sampai 1859.

Geografi Purba
Bidang studi geografi purba saling terjalin dengan bidang-bidang studi ilmu lain. Sebagian besar sarjana geografi yunani merupakan ahli filsafat dan sejarah. Herodotus (kira-kira 484-425M) misalnya menulis baik sejarah maupun geografi, bahkan ahli antropologi menyebutnya sebagai bapak ethnografi. Masa ini ditandai oleh sarjana yang serba bisa (Universal Scholarship, all round), dan kurun-kurun ini berlanjut terus sampai abad 19. Dalam masa tsb para sarjana karena terdorong oleh rasa keingin-tahuannya belum merasakan perlunya ada batas-batas yang jelas dari pengetahuan yang dikembangkannya.
Geografi sebagai suatu bidang studi di dunia barat berawal pada sarjana-sarjana Yunani Purba, sedangkan buah-buah pikiran para sarjana di luar itu (Cina, Arab, Mesir, Mesopotamia, dsb) tidak begitu berpengaruh pada mereka. Sebenarnya bangsa Yunani pun sebenarnya merupakan bangsa yang banyak meminjam (borrower) pengetahuan dari sumber-sumber pengetahuan bangsa lain, misalnya dari Mesir, Sumeria, Babilonia, Asiria, dan Phunisia. Para sarjana Yunani menyediakan suatu rangka konsep-konsep dam model atau paradigm tentang metoda-metoda yang membimbing perkembangan alam pikiran di dunia barat selama berabad-abad lamanya.
Akar dari ilmu pengetahuan Yunani sebenarnya berasal dari bangsa lain, misalnya:
1)Bangsa Mesir purba telah mengembangkan metoda-metoda pengukuran dan observasi. Para pendeta Mesir telah mengembangkan  ilmu ukur untuk keperluan praktis dalam pemerintahan (pengukuran luas tanah untuk mendapatkan pungutan pajak). Mereka telah dapat menentukan arah utara-selatan, sehingga bangunan-bangunan pemerintah/umum dapat diatur menurut arah yang baik (garis utara-selatan tsb menjadi apa yang jita namakan garis meridian sekarang ini-dari kata merides artinya tengah hari).
2)Kebudayaan Mesopotamia (sekarang Irak) mempunyai sumbangan yang besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Para perintis Matematika purba yang tinggal di Sumeria telah menggunakan prinsip-prinsip aljabar misalnya (a+b)y=ay+2ab+by. Sekalipun mereka belum mempergunakan simbol-simbol aljabar seperti yang kita pakai sekarang ini. Mereka juga menarik akar dari sesuatu bilangan.
Orang Sumeria membagi satu Tahun menjadi 12 bulan yang masing-masing terdiri dari 30 hari. Mereka juga membagi lingkaran zodiac menjadi 360 bagian, dan ide inilah yang kemudian menciptakan apa yang kita sebut “derajat” sekarang ini.
Bangsa Babilonia dan Assyria mencari manfaat dari observasi-observasi yang telah mereka lakukan. Mereka mengembangkan ilmu perbintangan (astronomi).
3)Bangsa Phunisia (Libanon) merupakan bangsa pelaut, penjelajah dan pedagang terkenal. Mereka mendirikan pusat-pusat perdagangan di seluruh pantai laut tengah. Bangsa ini telah mengembangkan abjad yang seluruhnya terdiri dari huruf mati (konsonan). Orang-orang Yunani tinggal menambahkan huruf-huruf hidup (Short Vowels) pada abjad Phunisia tsb.
Geografi Purba di Yunani:
1.Thales dari Miletus (640-546 SM) merupakan sarjana Yunani yang pertama-tama mencurahkan  perhatiannya mengenai pengukuran dan penentuan letak dari suatu benda (tempat) di permukaan bumi. Dalam perjalanannya ke Mesir Thales melihat para pendeta bekerja dalam pengukuran sudut, baseline dan perhitungan luas. Thalespulang ke Miletus di tepi laut Hitam dengan mengembangkan Trigonometri. Ada 6 dalil ilmu ukur sebagai hasil karya Thales waktu itu. Thales juga menyumbangkan karyanya dalam astronomi. Ia berpendapat bahwa materi itu terbentuk oleh air dalam berbagai tingkat-tingkat wujudnya. Ia juga menganggap Bumi ini sebagai sebuah cakram yang mengapung di atas air.
2.Anaxzimander dari Miletus (abad ke 6 SM). Ia terkenal karena memperkenalkan alat yang dipergunakan oleh bangsa Babylon yang dinamakan gnomon yang melukiskan perubahan bayang-bayang matahari sehubungan dengan perubahan letaknya 9sekarang disebut sundial, B.Inggris). dengan gnomon  itu orang bisa menentukan arah utara selatan atau meridian. Anaxzimander juga dikabarkan sebagai orang yang pertama kalinya membuat peta berdasarkan skala. Ia sukar memahami bagaimana caranya matahari menyelam dibawah air setelah terbenam untuk muncul (terbit) lagi diatas air keesokan harinya. Thales dan Anaxzimander dapat dianggap sebagai perintis bagi tradisi matematik dalam geografi.
3.Herodotus, bapak sejarah (484-425 SM). Suatu seri buku-buku yang melukiskan tentang negara-negara dan bangsa-bangsa (lands and peoples) yang pertama disusun oleh Herodotus. Seperti Thales ia juga banyak berkelana mengunjungi pantai-pantai Laut Hitam, terus ke Utara sampai S.Dnepr; menempuh jalan darat ke Iran; mengunjungi kota tua Babylon dan berkunjung ke Mesir. Dalam menceritakan usaha-usaha bangsa Yunani membendung pengaruh bangsa-bangsa barbar dari Utara dan Timur ia tak lupa selalu menceritakan sejarah manusia dengan menyebutkan tempat dimana peristiwa tersebut terjadi. Ia menulis tentang sejarah dan geografi Mesir (sedimentasi oleh banjir sungai Nil, delta, dataran banjir, dan sebagainya). Ia juga membuat peta tentang  daerah-daerah yang telah dikenal oleh orang Yunani pada masa itu.
4.Aristoteles (384-322 SM). Pada masanya penggunaan praktis dari geografi sudah mulai dilakukan orang. Orang-orang Phunisia seklaipun merahasiakan hal itu telah menyusun pengetahuan tentang daratan dan lautan untuk membuat jalur perdagangan di sepanjang pantai Eropa dan Afrika. Aristoteles menerima konsep Plato (428-348 SM) bahwa bumi ini bulat, dan mulai mencoba menerangkannnya serta menguji konsep tersebut melalui observasi-observasi. Ia adalah sarjana pertama yang membuktikan bentuk bumi yang bulat itu dengan melihat bahwa bayang-bayang bumi di Bulan pada waktu terjadi gerhana bulan adalah merupakan lingkaran.
5.Sebenarnya Pythageras (570-490 SM) telah mengemukakan, bawa bumi itu berbentuk bola. Pendapat ini diteruskan oleh Plato dan Aristoteles, serta pada akhirnya Erastosthenes (275-195 SM) untuk pertama kalinya berhasil menghitung keliling bumi.
Eratosthenes mengetahui, bahwa jika matahari tepat tegak lurus di Zenith Syena (sekarang Aswan) pada saat itu matahari tersebut miring (7,2) dari zenith untuk orang yang berada di Alexandria (Iskandariah). Oleh sebab jarak antara Syena-Alexandria sudah diketahui yaitu 5.000 stadia, maka keliling meridian bumi 360 : 7,1 x 5.000 stadia = 25.000 stadia atau 39.700 Km. Hasil ini hampir tepat dibandingkan dengan keliling bumi menurut perhitungan sekarang ini (40.000 Km).
6.Iskandar Zulkarnain (356-323 SM) dalam penyerbuannya sampai ke sungai Indus telah menambah pula keterangan-keterangan mengenai negeri-negeri baru di sebelah timur seperti Gedrosia (Pakistan Barat), Persia dan Karmania (Iran). Panglima angkatan lautnya, Nearchos menulis tentang negeri dan bangsa-bangsa dalam bukunya Perigesis. Iskandar Zulkarnain adalah salah seorang murid Aristoteles yang terkenal.
7.Hipparchus (190-125 SM) memperkenalkan penggunaan astrolabe yaitu semacam alat astronomi untuk menentukan tinggi bintang. Ia juga memperkenalkan konsep tentang Latitude (Garis Lintang) dan Longitude (Garis bujur).
8.Dalam zaman Yunani purba ini orang juga sudah mulai membuat dan menggunakan peta, misalnya Herodotus (450 SM) yang merupakan sebuah peta dunia. Batas utara pada peta itu sampai S. Ister (danau atau Danube) ke timur sampai India dan Laut Kaspia, ke selatan sampai laut Merah dan Ethiopia, dan ke barat sampai Spanyol. Peta yang lain adalah buatan Strabo, yang merupakan peta laut (63-24 SM), serta peta Marinus dari Tyrus (105 M) yang telah melukiskan negeri Seriea (Cina).
9.Sementara itu bangsa-bangsa Timur telah memberikan pula sumbangan yang besar bagi perkembangan geografi. Fa Hian (399-414 M), seorang biksu Cina mengadakan perjalanan dari Cina Utara melalui Chotan, Gilgit, Peshawar ke Delhi dan kota-kota di pinggir sungai Gangga, terus ke Sumatera, Jawa dan kembali lagi ke Cina. Pada waktu itu sudah ada jalan kafilah yang menghubungkan Cina dengan Asia Tengah; yang sebelah utara melalui Kuldsya dan Ferghana serta yang sebelah Selatan melalui Lob Nor dan Chotan. Tsyang Tayien, seorang duta cina dalam mencari bantuan ke luar negeri sampai ke Bactria, Samarkand, Balch dan Kabul serta akhirnya pada Tahun 126 SM ia kembali lagi ke Cina.
10.Orang-orang Viking (sekitar 800-1050 M) menyerbu dari Inggris ke negeri-negeri daratan Eropa sampai ke Rusia, Italia Selatan dan Amerika Utara.
Alfred Philippson, seorang ahli geografi Jerman dalam bukunya “Grunzage der Allgemeinen Geographie” (1921) membagi geografi purba dalam 2 aliran:
1)Aliran Sejarah (Historis), yang memberikan uraian-uraian dari perjalanan dan pengalaman para musyafir, peperangan dan pengalaman para musyafir, perdagangan-perdagangan dan peristiwa-peristiwa lain. Penetapan letak secara dan uraian tentang aktivitas-aktivitas penduduk masih kurang diperhatikan. Aliran ini memberikan bahan-bahan yang baik untuk ilmu bangsa-bangsa dan negara-negara (Land en Volkenkunde, Bld; Lands and Peoples, Egg). Penulis-penulis dari aliran ini diberi nama ‘ahli Logografi”, misalnya Herodotas, Nearchos, dsb nya.
2)Aliran Matematika. Aliran ini mendapat kemajuan pesat, karena filsafat dari ilmu-ilmu pengetahuan alamiahlah yang sebenarnya lebih dulu dapat membebaskan diri dari faham-faham kepercayaan kuno, sebaliknya para ahli filsafat dan ilmu-ilmu pengetahuan alamiah mulai menyusun suatu pengetahuan yang lebih rasional. Tokoh utama dari aliran ini misalnya Eratothenes, yang disebut sebagai “bapak Geografi”, sebab ialah yang memberikan istilah “Geographika” untuk pertama kalinya (selain pengukuran keliling bumi; Claudius Ptolemaeus, seorang ahli perpetaan (kartografi). Pada petanya telah tercantum 270 nama kota-kota di India, dan Cina (Serica) lebih dikenal pula bagian-bagiannya. Bukunya “Almagest” dan “Geographika” mengandung pokok-pokok tentang geografi purba.
Dalam masa pemerintahan Romawi telah dibuat peta-peta jalan raya yang disebut Iteneraria. Peta tersebut dibuat pada lembaran-lembaran perkamen (kulit domba), yang lebarnya 0,34 m serta panjang 0,6 m. Peta ini terutama digunakan untuk keperluan tentara, pejabat-pejabat pemerintah, dan pedagang.

Geografi dalam Abad-abad Pertengahan 

Pandangan orang terutama di Eropa, selama abad-abad pertengahan umumnya mengalami kemunduran, jika disbanding dengan hasil-hasil yang telah diperoleh sebelumnya. Kembali lagi mereka beranggapan, bahwa bumi ini berbentuk piringan datar, dan pada tepi-tepinya telah ada batas-batas tertentu. Anggapan ini menyebabkan orang tidak berani berlayar dengan leluasa. Gereja pun telah menetapkan, bahwa bumi merupakan pusat dan mataharilah yang beredar mengelilingi bumi (Geocentrisme). Orang yang berani menentang pendapat ini dianggap sebagai orang murtad, seperti misalnya Galileo (1564-1642), yang dituduh berani mengemukakan pendapat heliocentrisme (matahari ialah pusat tata surya, bumi bersama-sama dengan planet-planet lain beredar mengelilingi matahari). 
Tetapi justru selama abad-abad yang gelap dalam alam pikiran orang-orang Eropa ketika itu, pengalaman-pengalaman bangsa Arab, viking dan sebagainya dalam meluaskan pandagannnya ke negeri-negeri lain lebih banyak. Sejak kira-kira Tahun 800 sampai 1050 orang Viking memperluas kediamannya sampai ke Inggris, Rusia, Amerika Utara dan Italia Selatan. 
Para musyafir Arab dalam abad ke-9 dan 10 banyak menuliskan perjalanannya ke Rusia, Asia Tengah, dll (Ibnu Batuta, dll). Tetapi pada akhir abad-abad pertengahan semangat memperluas pengetahuan tentang negeri-negeri lain yang telah pudar itu mulai bangkit kembali. Hal ini karena:
1.Makin ramai dan meluasnya perhubungan antara Republik Kota misalnya Genua dan Venezia dengan dunia Timur, yang terkenal pada masa itu adalah Marco Polo (1254-1324), seorang warga Republik-Kota Venezia yang melakukan perjalanan ke Cina pada Tahun 1271 melalui Pamir, Lob Nor ke Peking. Selama 17 Tahun Marco Polo bekerja sebagai duta Cina di Tibet, Birma, tsyampa (Cochin Cina) dan pernah pula menjadi gubernur Nanking (1282-1285). Buku-bukunya memberikan gambaran yang lebih lengkap dan terang tentang dunia Timur, tetapi karena belum banyak hal-hal yang dikenal oleh orang Barat ketika itu, maka bukunya tersebut mendapat julukan “II Milione” (sejuta) berhubunng dengan banyaknya hal-hal yang “aneh” dalam buku itu.
2.Perang Salib antara abad 11 dan 13. Pada waktu itu banyak sekali kaum bangsawan dari Eropa ikut serta dalam perang salib untuk merebut kembali Tanah Suci (Palestina). Pengalaman mereka merupakan bahan yang banyak dibukukan. Penulis geografi terkenal pada waktu itu ialah Albertus Magnus yang mengarang “Liber Cosmographicus” (1250), Roger Bacon yang mengarang “Opus Majus” (1270) dan Fra Mauro yang telah membuat peta dunia. Venezia pada waktu itu merupakan pusat pelayaran, Oseanografi dan pembuatan peta-peta.
3.Geografi di dunia Islam
Setelah meninggalnya Nabi Muhammad SAW, terjadilah perluasan kerajaan-kerajaan Islam ke Barat dan ke Timur. Pada Tahun 642 mereka menguasai Mesir, kemudian mereka melintasi Sahara yang pada Tahun 732 seluruhnya dapat dikuasai. Kemudian menyeberang je Jazirah Iberia terus ke Perancis, tetapi dapat dihalau kembali pada pertempuran di Tours. Selama 9 abad Islam dapat menguasai Spanyol dan Portugal. 
Ke arah Timur mereka menaklukan Persia pada Tahun 641. Pada Tahun 762 didirikanlah kota Bagdad di dekat reruntuhan kota tua Babylon. Di bawah khalifah harun al Rashid (786-809) dimulailah projek penterjemahan buku-buku kuno dari berbagai sumber (Yunani, Hindu, Cina, dsb). Projek tersebut diteruskan oleh khalifah Al Mamun (813-833), yang memperkerjakan sarjana-sarjana dari smua agama dan kepercayaan. Al Mamun juga mengulangi pengukuran keliling bumi seperti yang telah pernah dikerjakan oleh Eratosthenes dahulu. 
Dalam kurun zaman ini besar sekali sumbangan ahli-ahli geografi Arab, baik dalam memperkaya konsep-konsep tentang iklim, bentuk permukaan bumi, perpetaan, dsb nya. Diantaranya yang terkenal ialah:
a.Dalam bidang Klimatologi:
1.Ibn Haukal (943-973) mengunjungi pantai Timur Afrika sampai 20o dari equator. Ternyata di daerah itu banyak dijumpai pemukiman penduduk (oikumene). Dengan demikian kenyataan ini membantah pendapat orang Yunani, bahwa seluruh daerah sekitar equator (daerah tropik) tidak dapat didiami oleh manusia.
2.Al Balldi (921) menerbitkan atlas yang menggambarkan jenis-jenis iklim di seluruh daerah di dunia, atlas tersebut diberi nama kitab al Askhal.
3.Al Masudi (meninggal Tahun 956) member keterangan tentang  angin musim (Munson) di Mozambigue. Ia mengemukakan banyak konsep iklim yang masih banyak dipakai sekarang ini, yaitu tentang penguapan (Evaporation), curah hujan/salju (Precipitation) dan pengembunan (Condensation).
b.Dalam Bidang geomormologi (landforms) :
1.Al Biruni membahas dalam kitabnya yang berjudul Kitab Al Hind (tentang India) landforms anak benua India.
2.Ibn Sina (980-1037) membahas tentang lembah-lembah dan proses erosi di Asia Tengah.
c.Dalam Bidang Perpetaan:
Yang paling terkenal adalah Idris (Edrisi) seorang tamatan Universitas Cordoba (Spanyol) yang kemudian dipekerjakan oleh raja Roger dari Sicilia di Palermo. Ia banyak menciptakan peta Portonalo (peta laut dengan banyak garis arah kompas). Peta semacam ini yang dipakai oleh Columbus, Magellhaez (Magellan) dalam perjalanannya. 
Kecuali itu sangat terkenal pula perjalanan seorang musyafir Arab Ibn Batula kelahiran Tangier (Marokko) pada Tahun 1304. Ia sampai ke Rusia Selatan, India, Kepulauan Maladewa, Lakadewa (Sri Langka), Afrika Utara, yang ditempuh selama 30 Tahun dengan menempuh jarak 75.000 mil (suatu rekor dunia pada abad ke 14 itu). Selain itu Ibn Khaldun dalam bukunya yang berjudul Muqadimmah banyak menjelaskan geografi fisik dari pengalaman perjalanannya.

Geografi pada zaman Renaissance penemuan benua-benua baru. 

Sesudah abad-abad pertengahan para sarjana lebih leluasa menguratakan pendapatnya mengenai keadaan dunia, sebab ketika itu mulai timbul pembaruan alam pikiran (Antklarung) dengan timbulnya Renaissance dan Humanisme. Mereka memegang kembali pendapat bahwa bentuk bumi itu bulat, dan hal ini kelak terbukti dengan berhasilnya perjalanan/pelayaran Fernao de Magelhaez (1519), penemuan benua Amerika oleh Columbus (1486) dan Vasco d agama (1498), dll. 

Di pihak lain ilmu pasti dan alam mendapat kemajuan yang pesat dengan dikemukakannya teori-teori dari penemuan baru yang amat menguntungkan bagi perkembangan geografi. Sarjana-sarjana terkemuka yang besar jasanya dalam pembaruan ini misalnya:
1.Nicolas Copernicus (1473-1543) yang menyatakan bahwa bumi berputar pada sumbunya (1530).
2.Galileo Galilei (1564-1642) yang menyetujui pendapat Copernicus serta menyatakan bahwa bumi beredar mengelilingi matahari dalam bukunya “Della macchi Solarie” (1613), tetapi dipaksa menarik kembali pendapatnya itu oleh gereja.
3.Johanes Kepler (1571-1630), yang berhasil memberikan dalil-dalil tentang pergerakan planet-planet.
4.Gerardus Mercator (1512-1594) yang namanya sampai sekarang ini tidak asing lagi dalam dunia perpetaan. Kartografi memperoleh kemajuan yang pesat berkat kemajuan yang berasal dari ilmu ukur dan astronomi serta didorong pula oleh kebutuhan orang utnuk menemukan daerah-daerah baru. 

Sebaliknya adanya peta-peta yang lebih lengkap dan sempurna serta kemajuan astronomi dan ilmu ukur tsb, maka pelayaran (navigasi) memperoleh kemajuan yang pesat pula. Banyak daerah baru yang dikemukakan dalam pelajaran-pelayaran semacam itu, misalnya Willem Jansz (1605), Abel Tasman (1642) dan James Cook (1772-1775) ke Benua Australia. James Cook diutus oleh lembaga ilmu pengetahuan Inggris (The Royal Society). Dalam pelayaran itu ekspedisinya disertai pula oleh beberapa sarjana dari bermacam-macam bidang keahlian, misalnya sarjana botani, kebudayaan timur (orientalist), dokter, ahli geografi, dan ilmu ahli alam. 

Pencarian daerah baru serta perdagangan dunia yang mulai ramai pada abad ke 17 dan 18 itu menyebabkan pula beberapa sarjana menaruh perhatian, terutama kepada organisasi perdagangan serta kehidupan ekonomi negara-negara lain (VOC, Merchants Adventures, dsb). Sejak itu pula mulai terdapat pula dasar-dasar untuk tumbuhnya geografi ekonomi, geografi perdagangan dan lalu-lintas (Economic geography, Commercial geography, geography of transport). 

Sejalan dengan makin luasnya lapangan penyelidikan yang diperhatikan oleh geografi, maka makin sukarlah orang bisa menguasai segala bagian geografi dengan baik. Untuk mengusahakan segala bagian geografi dengan baik. Untuk mengusahakan efisiensi dan mendalami penyelidikan-penyelidikan, maka akhirnya timbulah spesialisasi dalam geografi. Spesialisasi yang tumbuh dalam masa itu misalnya:
1.Pengetahuan tentang fosil-fosil (kini tumbuh menjadi Palaeonthologi) yang dipelopori oleh Van Woodward (1694).
2.Tentang angin pasat dan angin musim oleh halley (1686).
3.Tentang arus laut oleh Isaac Vossins (1663).
4.Tentang pegunungan oleh Buache (1752).
5.Tentang teori terjadinya bumi oleh Buffon (dalam bukunya “Epoque de la Nature”, 1778) dan Hutton (dalam “Theory of the Earth”, 1778). 

Dalam abad ke 17 berdasarkan buku “Geographia Generalis” yang diterbitkan oleh Bernhardus Varenius (1650, Amsterdam), ternyata bahwa geografi-fisik telah berkembang menjadi pengetahuan yang lengkap. Geografi oleh Varenius diberi definisi sebagai ilmu-pasti tercampur, karena berdasarkan pengalaman-pengalaman pula. Sifat ilmiahnya berlainan dengan filsafat, ilmu pasti atau fisika yang lebih murni sifatnya, sebab ilmu pasti dan ilmu alam hamper semata-mata bersumberkan hasil-hasil penalaran manusia. Ilmu-ilmu semacam itu tergolong pada ilmu-ilmu murni (pure species). Selanjutnya ia menunjukkan, bahwa tugas dari geografi ialah meberikan pelajaran-pelajaran mengenai keadaan bumi dan bagian-bagiannya seperti ukuran-ukuran, bentuk letak, gerak, keadaan langit dipandang dari bumi. Iapun memberikan pula sistematik mengenai geografi atas : Geographia Generalis atau Geographia Universalis dan Geographia Spesialis. Geographia Spesialis terdiri dari Chorographia (daerah besar) Geographia Spesialis dan  Topographia (daerah kecil). 

Geographia Generalis (Universalis) mempelajari dunia sebagai suatu keseluruhan. Geographia Spesialis mempelajari susunan daerah satu per satu. Lapangan ini masih dibagi lagi menjadi 2 bagian, yaitu Choro Graphhia  yang memberikan uraian tentang daerah kecil, misalnya kota, desa dsb. Semua gejala dalam geografi dari air laut, danau, angin, sampai ke iklim dan pegunungan mendapat perhatian penuh dalam geografi sejak masa itu.

GEOGRAFI BARU 

Pada akhir abad 19, yang ditandai oleh munculnya keprofesionalan dalam geografi (sering disebut geografi Baru). Profesionalisme dalam geografi ini didukung oleh :
a.Adanya suatu kebulatan tentang konsep-konsep yang dapat diterima oleh para anggotanya.
b.Adanya departemen-departermen geografi pada perguruan-perguruan tinggi yang dibina oleh para professor yang membina pendidikan tinggi, latihan-latihan kesarjanaan dalam bidang geografi. Perkembangan ini kemudian menyebar ke Prancis, Inggris, Rusia, dan melalui berbagai jalur sampai pula ke Amerika. Selanjutnya dari kelima sumber ini geografi profesional yang baru ini menyebar keseluruh dunia.

Geografi dalam abad ke-19

Apabila masa-masa sebelumnya geografi-fisik memegang dominasi, namun akhirnya sejak abad ke-19 orang mulai memikirkan bagaimanakah kedudukan dan peranan manusia dalam hubungannya dengan masalah-masalah geografi.

Kedua masalah tersebut di atas (gejala-gejala fisik dan faktor manusia) akhirnya malah menjadi dasar yang kuat bagi tumbuhnya geografi modern. Dalam pertumbuhannya yang semakin subur ini kita tidak dapat melupakan jasa-jasa Alexander Von Humboldt (1779-1859) sebagai bapak geografi sosial.

Kemajuan dalam geografi fisika dapat diikhtisarkan sbb:
1.Alexander von Humboldt dalam bukunya “Kosmos” (1845-1859) memberikan uraian yang sangat sistematik mengenai hubungan antara iklim dan tumbuh-tumbuhan. Karena itu ua dapat pula kita anggap sebagai bapak geografi tumbuh-tumbuhan (phytogeography).
2.Eduad Suess (1881-1909) berhasil mengungkapkan masalah yang belum pernah dipikirkan dalam geologi-dinamika (ingat tentang teori pergeseran benua-benua, SiAl-SiMa).
3.Dalam Tahun 1870 Oscar Peschel berhasil meletakkan dasar bagi perkembangan geomorfologi (cabang geologi yang mempelajari geomorfologi atau bentuk permukaan bumi). Usaha ini baru berhasil benar-benar ketika William Morris Davis (1850-1935) berdasarkan penyelidikannya di pegunungan Appalachia, berhasil memisahkan geomorfologi dari geologi. 

Perkembangan paham-paham baru dalam geografi-fisika umumnya tidak pernah menggocangkan, dan lekas dimufakati oleh sarjana-sarjana lain. Hal ini berbeda dengan masuknya paham-paham baru dalam geografi sosial seperti yang tampak pada uraian-uraian selanjutnya. 

Kembali lagi kita ke dalam lapangan geografi sosial yang lebih banyak persoalannya; kedudukan dan peranan manusia dalam geografi dipersoalkan pertama kalinya oleh Karl Ritter pada Tahun 1817 dalam bukunya “Die Ertkunde im Verhaltnis Zur Natur and Zur Geschichte”. Geografi bagi Ritter mempunyai arit teleologis, artinya: bumi diciptakan oleh tuhan agar manusia dapat belajar memakainya untuk tempat menetap. Dalam buku Ritter tsb. Sudah kita ketemukan prinsip (dasar) dari Phisisch-Determinisme. Phisisch-Determinisme adalah pandangan (paham) yang berpendapat, bahwa kehidupan manusia ditentukan oleh keadaan-keadaan alam. 

Pandangan Ritter ini kemudian dilanjutkan oleh mazhab Ratzel (1844-1904), yang mengemukakan faham-fahamnya dalam ajaran yang disebut anthropogeographie. Prinsip Phisisch-determinisme merupakan inti dari pada ajaran Anthropogeographie tsb.

Tokoh lain dari mazhab Riter-Ratzel ini dapat dikemukakan misalnya J.G. Kohl (1808-1878) yang dapat kami sebut sebagai peletak bagi dasar geografi lalulintas. Dari buku Kohl yang berjudul “Dehr Verkehr und die Ansiedelungen der Menschen in ihrer Abhangigkeit von der Gestaltung der erdobertlache” (1814) nyatalah bahwa menurut ia perkembangan lalulintas dan tempat tinggal manusia dipengaruhi oleh keadaan alamnya. Pandangan ini kelak akan ditentang oleh mazhab Perancis dalam ajarannya yang disebut Geographie Humaine (Geografi manusia atau geografi budaya).

Geografi Baru 

Pada akhir abad 19 tampak adanya perubahan fundamental dalam peranan universitas. Universitas tradisional sebelumnya dipandang sebagai tempat dimana mahasiswa dapat diindoktrinasi dalam paham-paham agama dan politik, dan mereka memusatkan studinya pada bahasa Yunani, bahasa Latin (bahasa-bahasa klasik). Mereka umumnya belajar dalam bidang agama, hukum, logika dan rethorika (ilmu berpidato). 

Tetapi sejak dikenalnya bidang profesional yang baru, yang disebut disiplin (dalam arti disiplin ilmiah) universitas-universitas menerima tanggung jawab untuk melaksanakan pendidikan tingkat tinggi kepada generasi-generasi sarjana yang lebih muda. Tiap-tiap anggota dari bidang profesi itu mematuhi tingkah laku profesional yang baku (standart). Jenis pendidikan semacam ini menuntut studi/latihan tingkat tinggi dalam graduate schools. 

Perubahan besar-besaran tersebut  mulai terjadi di Jerman dalam Tahun 1809 dengan didirikannya Universitas Berlin sebagai suatu masyarakat cendikiawan yang bebas (kebebasan mimbar). Kemudian diterima dua prinsip berhubung dengan fungsi yang baru dari universitas:
1.Mahasiswa dibebaskan dari kurikulum standar, dan diperbolehkan memilih mata kuliah apa saja yang menarik baginya.
2.Pengangkatan jabatan-jabatan akademis di fakultas didasarkan pada prestasi akademis. Para pengajar diberikan hak untuk menyelenggarakan penelitian-penelitian serta mengajarkan hasil penelitian tersebut. 

Geografi sebagai suatu bidang studi kesarjanaan di universitas-universitas di Jerman lahir pada Tahun 1870-an. Dari Jerman gerakan ini meluas dengan cepat ke Prancis dan negara-negara Eropa yang lain, dan juga ke Amerika. Tokoh terkemuka di Jerman yang sangat berjasa dalam memperkenalkan geografi baru pada universitas-universitas di Jerman yang sangat berjasa dalam memperkenalkan geografi baru pada universitas-universitas di Jerman adalah Baron Ferdinand Von Richtofen, seorang peneliti lapangan. Pada Tahun 1875 ia memimpin Departemen Geografi di Berlin. Selama periode 1877-1912 menyelesaikan studinya tentang Cina dalam lima jilid buku. Selanjutnya selama jadi rector di Universitas tersebut, berhasil membimbing mahasiswa-mahasiswanya sehingga menjadi sarjana terkenal : Otto Schluter, Alfred Philippson dan Sven Hedin (seorang peneliti Asia tengah, berkebangsaan Swedia). Tokoh utama geografi baru di Perancis adalah Paul Vidal de la Blache yang mengajar geografi di Universitas Nancy dari Tahun 1872 hingga 1877.

Geografi abad ke-20 

Sebenarnya pendapat yang terlalu melebih-lebihkan pengaruh alam terhadap kehidupan manusia telah diperingatkan oleh Ernst Kapp (1808-1896) dan Oscar Peschel (1816-1875), tetapi barulah mulai benar-benar ditentang oleh Paul Vidal dela Blache (1845-1918) yang dianggap sebagai bapak dari mazhab Perancis, yang mengemukakan ajarannya sebagai Geographi Humaine (Geografi Manusia atau Geografi Budaya).

Karangan-karangan Paul Vidal De la Blache diterbitkan oleh ahli geografi Emanuel De Martonne dengan judul “Prinsiple De Geographi Humaine”.  Dalam Geographi Humaine manusia tidak lagi dianggap pasif dalam kehidupannya. Tugas geografi adalah : menyelidiki usaha-usaha manusia di permukaan bumi; menyelidiki bentuk-bentuk yang nyata yang ditinggalkan oleh manusia sesudah dipakainya tempat tinggal. Berhubung Mazhab Prancis ini hendak menyelidiki usaha-usaha manusia dan akibat-akibatnya pada permukaan bumi, maka Mazhab ini disebut juga geografi manusia (Geogrpahi Humaine, Human Geography) atau geografi budaya (Cultural Geography).

Pengikut yang termasuk Mazhab Prancis adalah Jean Brunhes (1869-1930). Aliran-aliran geografi di Indonesia terutama terpengaruh aliran geografi Belanda yang juga dipengaruhi aliran Prancis ini. Di Nederland geografi budaya tersebut kemudia berkembang menjadi dua aliran lagi, yaitu aliran utrech yang dipelopori oleh Leo van Vunren (1873-1941) yang menganggap bahwa manusia merupakan unsur yang mencipta dan mengubah. Mereka berusaha menemukan hubungan antara kehidupan manusia dengan keadaan alam (tetapi tidak bersifat (Physisch-Deterministis lagi). Aliran yang lain adalah aliran Amsterdam (Stemmetz, Ter Veen) yang menghendaki agar kelompok manusia dan gejala-gejala kelompok dijadikan dasar bagi penyelidikan-penyelidikan geografi. 

Kedua aliran tersebut akhirnya sampai di Indonesia, tetapi sudah barang tentu di Indonesia akan berkembang aliran-aliran geografi sesuai dengan kehidupan ilmiah baik di dalam maupun di luar negeri.

Geografi Kontemporer 

Geografi kontemporer berkembang sesudah PD II, yang ditandai oleh banyaknya perubahan mengenai kualitas hidup di seluruh dunia ini. Perubahan ini ditandai oleh inovasi-inovasi teknologi yang berkembang selama dan sesudah PD II yang bersifat revolusioner. Sementara itu dalam waktu yang singkat dalam periode ini telah terjadi peledakan penduduk serta menyebarnya secara cepat jaring-jaring komunikasi, yang menuntut adanya kesadaran, bahwa kemakmuran tidak mungkin dapat dipertahankan lagi dengan adanya konsentrasi manusia yang hidup dan kebodohan dalam bagian-bagian yang lain dari dunia ini.

Periode ini ditandai pula oleh adanya dua gejolak:
a.Pada Tahun 60-an para mahasiswa geografi terutama mencurahkan perhatiannya pada Science dan matematika, sehingga pengkajian ide-ide geografi melalui sejarah serta literature diabaikan. Hal ini dapat merupakan bahaya pula, sebab orang begitu saja mudah menerima konsep-konsep, teori-teori maupun metode-metode yang telah diletakkan oleh para pendahulu tanpa mengkaji lebih lanjut akan kebenaran yang sesungguhnya.
b.Pada Tahun 70-an terjadi suatu gerakan kearah pencarian kebenaran dalam geografi melalui berbagai jalur misalnya literature, filsafat, teknologi, sejarah, Science dan lain-lain.

Perang Dunia II membawa perubahan besar-besaran dalam kehidupan manusia. Berbagai perubahan besar tersebut antara lain:
1.Penemuan-penemuan dalam bidang teknologi seperti mesin jet, radar, tenaga nuklir, teknologi dirgantara dan ruang angkasa, teknologi komunikasi dan computer.
2.Perubahan dalam sikap hidup antar bangsa-bangsa, terutama dalam usaha penghapusan penjajahan, dan meredanya kecurigaan rasial.
3.Dalam dunia akademik terjadi gelombang penemuan tidak saja dalam bidang fisika dan kedokteran saja, melainkan dalam ilmu-ilmu sosial dan budaya, terutama setelah ditemukannya alat bantu analisis seperti komputer, yang memungkinkan perhitungan-perhitungan statistik matematik yang belum pernah terjadi sebelumnya.
4.Revisi yang mendasar dalam pendidikan. Mahasiswa tahun 60-an diintrudusir untuk lebih mengutamakan keterlibatannya dalam Science dan matematika dan mengabaikan ilmu-ilmu sosial. Pada Tahun 70-an terjadi “reaksi” atas hal tersebut, terjadi gerakan baru yang mencari pemahaman secara mendalam melalui seni, music, kesusateraan, filsafat, dan sejarah. Sebagai bidang studi geografi terpengaruh oleh perubahan-perubahan pasang surut ilmu pengetahuan tersebut. 

Konsep-konsep geografi yang masih relevan dengan perspektif geografi masa kini:
1.Bumi sebagai ruang untuk tempat tinggal (the concept of occupied space). Konsep ini berkaitan dengan pengukuran jarak, arah, luas, kepadatan, keterjangkauan, lokasi.
2.Konsep regional, region adalah bagian dari permukaan bumi yang mempunyai keseragaman dalam faktor-faktor fisik sosial, ekonomi, dan budaya, sehingga mempunyai satu ciri khas (Personality), yang dapat dibedakan dari wilayah lainnya. Region ini dipakai sebagai alat untuk memilih, mempelajari pengelompokan, menganalisis gejala yang komplek dari muka bumi (analisis regional).
3.Adanya kemajuan dalam teknik dan metode observasi, terutama  kemajuan dalam bidang: pemetaan, penggunaan citra foto dan citra satelit udara untuk menggambarkan data geografis secara cepat, penggunaan konsep matematika dan prosedur statistic, konsep sistem keruangan (spatial system), penggunaan sistem analisis misalnya pada human ekosistem, studi tentang letak/tempat sacral (Central place theory), studi tentang penyebarn (difusi) gejala dan masalah geografis, dll. 

Peter Hagget mengemukakan, bahwa pemikiran Geografi berpusat pada tema-tema sebagai berikut:
1.The areal differentiation theme (perbedaan keruangan atau Geodiversity). Tujuan pokok dalam penelitian geografi adalah mempelajari perbedaan-perbedaan antara tempat-tempat di permukaan bumi.
2.The landscape theme (Hettner 1859-1941). Landscape mempunyai suatu ciri khas (unik) yang terlihat sebagai suatu personality.
3.The man environment theme (ekologi manusia). Ekologi sebagai ilmu pengetahuan yang mengkaji hubungan timbal balik antara organisme dan lingkungannya, dan mengkaji adaptasi organisme terhadap lingkungannya.
4.The spatial distribution theme. Tujuan dari geografi adalah menguraikan dan member keterangan (explanation) tentang penyebaran gejala-gejala di permukaan bumi.
5.The geometric theme. Tradisi ilmu ukur dalam geografi merupakan suatu yang sudah dikenal oleh Erathosthenes (276-194 SM), Khalifah al Mamun (813-833), dsb yang mengadakan pengukuran-pengukuran jarak. Sejak tahun 1950 perhatian ahli-ahli geografi dicurahkan lagi pada segi ini dengan munculnya metode kuantitatif dalam geografi.

0 komentar:

Poskan Komentar